Demetori

Demetori

Tuesday, June 12, 2018

Proyek Naval Advanced Tactical Fighter

yf-23net

Karena intervensi Kongres, AL AS setuju untuk mengevaluasi ATFnya AU AS (sekarang F/A-22) sebagai pengganti sebisa mungkin untuk F-14 mereka. Sebagai imbalannya, Angkatan Udara AS akan mengevaluasi turunan dari ATA sebagai pengganti F-111 mereka.

Pada akhir 1988,di sebuah kantor program Naval ATF (NATF) didirikan di Pangkalan Angkatan Udara Wright-Patterson dan kontrak-kontrak ATF Dem / Val yang ada dimodifikasi untuk memasukkan studi-studi mengenai potensi varian NATF.


The Major Aircraft Review mengurangi tingkat produksi puncak dari kedua ATF dan NATF. Ini memiliki efek yang secara substansial meningkatkan biaya program. Pada bulan Agustus 1990, Laksamana Richard Dunleavy, yang bertanggung jawab atas persyaratan pesawat Angkatan Laut, menyatakan bahwa dia tidak melihat bagaimana NATF dapat masuk ke dalam rencana yang terjangkau untuk penerbangan angkatan laut. Pada awal 1991, sebelum kontraktor final untuk ATF bahkan dipilih, pertimbangan NATF dibatalkan. Hal ini terutama disebabkan oleh fakta bahwa Angkatan Laut menyadari bahwa serangkaian upgrade ke F-14 mereka yang ada dapat memenuhi kebutuhan superioritas Angkatan Laut sampai tahun 2015.

F-22N dipelajari dalam Tinjauan Pesawat Utama sebagai konsep NATF, dan dibatalkan dalam ukuran besar karena berat lepas landas bruto yang diproyeksikan tinggi melebihi kapasitas operator saat ini.



Pesawat kapal induk terbang lebih lambat dibandingkan dengan pesawat didarat dan harus mampu melakukan waveoff dengan kecepatan rendah. Oleh karena itu, daya 1,5g penuh pada 0.2M dan permukaan laut dengan semua muatan dan cadangan bahan bakar di pesawat mungkin diperlukan untuk memastikan margin manuver yang memadai. Persyaratan ini menentukan pemuatan sayap untuk pesawat berbasis laut [SSF dibebaskan dari persyaratan waveoff ini karena melakukan pendaratan vertikal].
Sumber:Zephyr93

Pengoprasian di kapal induk memerlukan struktur yang lebih berat karena beberapa faktor:

1) roda pendarat yang ditangkap membutuhkan pengait ekor dan pesawat yang diperkuat,
2) roda pendarat dirancang untuk kecepatan tenggelam 24 ft / dtk, dan
3) peluncuran ketapel membutuhkan gigi hidung yang diperkuat dan pesawat juga diperkuat.

Kenaikan berat badan ini sulit untuk dihitung karena tidak ada data untuk pesawat yang dirancang untuk operasi berbasis darat dan laut dengan kemampuan misi yang persis sama. Sebagai contoh, bertentangan dengan hukuman navalization yang diharapkan, F-4 berbasis darat sebenarnya memiliki bobot kosong yang lebih tinggi daripada versi berbasis kapal induk. Namun dalam kasus ini, versi berbasis darat menggunakan peningkatan kekuatan dan luas sayap pesawat pengangkut untuk meningkatkan beban peralatan, yang setara dengan kapabilitas misi yang lebih tinggi. Demikian pula, beberapa pesawat telah berhasil melakukan transisi dari operasi berbasis darat ke laut. Versi kapal induk dari British Hawk memang melakukan peluncuran melontar dan pendaratan ditangkap tetapi membutuhkan penguatan struktural yang besar untuk melakukannya. Hawk versi kapal induk adalah sekitar 11% berat kosong, tetapi tidak bisa lagi terbang sejauh versi berbasis darat.


Karena penelitian historis tidak memberikan nilai untuk hukum berat badan pesawat dan pendaratan untuk operasi kapal induk, perkiraan harus dibuat dengan cara lain. Untuk tujuan ini, F-14 dan F-18 dimodelkan menggunakan persamaan bobot darat berbasis ACSYNT. Berat badan pesawat terbang dan sruktur roda pendarat yang sebenarnya sekitar 30% lebih besar daripada yang dimodelkan oleh ACSYNT. Oleh karena itu, 30% badan pesawat dan minimum berat roda pendarat dapat diterapkan untuk pesawat berbasis kapal induk dalam studi ini.Komentar informal oleh personel Angkatan Laut AS setuju bahwa 30% adalah perkiraan yang masuk akal.

Pada awal pengembangan ATF / NATF, varian angkatan laut dari F-22 bisa dikembangkan. Pada akhir 1990-an, bagaimanapun, untuk mencangkokkan kebutuhan Angkatan Laut ke program F-22 yang ada akan sama dengan kesalahan yang dibuat Departemen dalam mengembangkan F-111. Dalam program itu, DOD mengarahkan Angkatan Udara untuk menambahkan persyaratan Angkatan Laut ke konsep EMD Angkatan Udara yang ada "dengan gangguan minimal" untuk program tersebut. Akibatnya, versi Angkatan Laut F-111 secara signifikan kelebihan berat badan dan kemudian dibatalkan demi pesawat Angkatan Laut baru, F-14. Waktu yang tepat untuk menggabungkan persyaratan multi-layanan adalah di awal program, dan waktu yang ideal adalah saat persyaratan sedang dikembangkan dalam pendekatan rekayasa sistem yang seimbang.



Demikianlah dari artikel saya semoga kalian menykainya dan maaf kalau copas dari artikel sebelah


Sumber:
https://www.globalsecurity.org/military/systems/aircraft/natf.htm

translate dengan:Google Terjemahan dan kemudian diedit sendiri





Lockheed/Boeing AFX-653

Banyak orang yang tidak tahu proyek AFX ini.Bahkan program ini akan direncanakan untuk kebutuhan AL AS di masa depan.Pernah ada di forum F-16 net juga mendiskusikan hal ini.Seniman pesawat tempur ternama Fighterman FFRC menggambar konsep desain AFX dengan menggabungkan F-22A Raptor dengan F-14 Tomcat.






Sumber gambar:
Fighterman FFRC 
Google Image





Pesawat Fiksi yang terinspirasi di dunia nyata


Maaf kalau admin jarang update blog ini selama 2 bulan karena Internet yang lambat.
Kali ini admin akan membagi desain pesawat fiksi karya Fighterman FFRC nampak hampir mirip dengan aslinya.Jika kalian melihat gambar diatas,itu adalah pesawat  yang dikembangkan dari F-14 Tomcat.Ya sekilas memang mirip F-14 Tomcat.Tapi desainnya lebih futuristik dan lebih mutakhir dari Super Tomcat dengan code F-14++.Bagian exhaustnya yang dulunya bulat sekarang jadi persegi panjang dengan Thrust Vectoringnya.Ini adalah pesawat yang kemudian akan dikembangkan dengan nama VF-0 Phoenix dan juga kemudian VF-1 Valkyrie dengan kemampuan GERWALK (Pesawat dengan berjalan seperti Ayam atau burung onta) dan BATTLEROID (Kemampuan pesawat bertransformasi jadi robot seperti Transformers).






Sumber Foto:Variable Fighter Master Files VF-0 Phoenix

Gambar Utama:Fighterman FFRC

Sunday, March 18, 2018

Mitsubishi ATD-X Shinshin Maju Terus Pantang Mundur

Add caption

 Gagal memperoleh F-22 Raptor tak membuat Jepang patah arang.Selain mengakuisisi F-35A Lightning II,Jepang juga mempersiapkan penempur generasi kelimanya sendiri.Berbeda sewaktu mengembangkan Mitsubishi F-2A/B yang mengambil basis F-16C/D Fighting Falcon,kali ini Jepang Melenggang sendiri.Bisa Ditebak,bisa jadi inilah salah satu alasan mengapa AS Menolak menjual F-22 ke Negeri Sakura.

Bagaimanapun juga,Jelas AS tidak rela begitu saja alutsista matra udara pamungkas nan trengginasnya dipelajari untuk jadi basis pengembangan alutsista negeri lain,meski sekutu dekatnya sendiri.Seperti itulah dikemukakan di bagian depan,di negara-negara yang sudah mapan perencenaan alutsistanya,rencana penggantian satu armada (sekaligus) sudah dilakukan jauh-jauh hari.

Secara teknis usia pakai Mitsubishi F-2 baru akan habis masa pakainya hingga 2025.Itupun belum menghitung faktor perpanjangan usia pakai,yang jika dilakukan mengeser mundur jadwal penarikan dinas aktif.Jepang menetapkan bahwa tahun 2009 tipe pesawat tempur penggantinya sudah masuk fase definitif,entah itu (kelak)desain swadaya atau membeli langsung dari luar(off-the-shell).Namun yang dirasakan paling mendesak adalah pengganti penempur F-15J/DJ Eagle yang berkemampuan terbang jarak jauh.Seperti diketahui,dalam roadmap penggantian alutsista matra udara Jepang,F-35 ditetapkan sebagai pengganti penempur F-4EJ Phantom II.

Pengembangan penempur generasi lanjut yang kabarnya akan didesainasi F-3 tersebut diwujudkan dalam pengembangan konsep desain bertajuk ATD-X (Advanced Technology Demonstrator - X).Pengembangan digawangi Gijutsu Kenkyu Honbu alias TRDI (Technical Research and Development Institute) di bawah naungan Kementrian Pertahanan Mitsubishi Heavy Industries sebagai Kontraktor Utama.

gagal mendapatkan Raptor,pemerintah jepang mempercepat proses pengembangan ATD-X.Bentuknya pun jadi mirip
Fase awal ATD-X boleh dikata lolos dari pantauan media.Tahun 2005,sebuah model berskala diuji di dua fasilitas uji milik Perancis yaitu terowongan angin (uji aerodinamika) dan laboratorium yang dilngkapi anechoic chamber (uji RCS).Bisa dimengerti,Prancis di[ilih Jepang tentu menyadari bahwa AS masih "sensitif" akan isu teknologi stealth yang berujung mengekspor F-22 Raptor.Lagi-lagi tak banyak terpantau media,sebuah model berskala yang dilengkapi perangkat remote control diuji terbang pertama kalinya tahun 2006.

Pada tahun 2009,pemerintah Jepang memutuskan mempercepat proses pengembangan ATD-X setelah ada kepastian bahwa Raptor tak diizinkan untuk diekspor ke luar AS.Bahkan yang teknologi stealthnya di-downgrade sekalipun.Perakitan skala penuh ukuran sesungguhnya purwarupa ATD-X dimulai tahun 2012 ,dan pada Juli 2014 Jepang merilis foto-foto ATD-X untuk pertama kalinya,dengan bentuk yang tidak terlalu jauh beda dengan gambar-gambar rekaan yang selama ini sudah edar duluan.

Yang membuat para pengamat penasaran adalah fakta bahwa foto-foto pesawat yang kelihatan baru digelindingkan keluar hangar itu,ada bagian yang kelihatan sengaja diburamkan,di antara roda pendarat depan.Kuat dugaan bagian tersebut menyimpan detail teknis yang sementara ini tak ingin terbuka jelas di ruang publik.

ATD-X sebetulnya barulah peraga teknis skala penuh (full-technology demonstrator).Meski diyakini sosok purwarupa F-3 tidak bakal jauh berbeda dengan ATD-X,namun sempat muncul dugaan kalau kelak Mitsubishi F-3 akan bersosok lebih besar.mengingat skenario dimana salah satu yang akan digantikan adalah F-15J/DJ yang termasuk kelas heavy fighter.

Seperti halnya Mitsubishi F-2,ATD-X pun akan berkemampuan mengusung senjata-senjata buatan AS di samping tentunya rekayasa Jepang sendiri.Entah itu rudal udara ke udara (AAM) maupun rudal Udara ke darat (ASM)


Radar sudah pasti AESA,dengan resolusi dan processing capability lebih tinggi ketimbang Mitsubishi Electric J/APG-1 pada Mitsubishi F-2.Yang juga sudah dipastikan terpasang (tertuang dalam spesifikasi desain) adalah perangkat IRST.Menilik perkembangan terkini dimana pesawat patroli Maritim buatan Jepang Kawasaki P-1,yang mulai masuk dinas operasional juga ditawarkan ke pasar ekspor seiring kebijakan reinpretasi konstitusi Jepang,bukan tak mungkin kelak penempur ATD-X di ekspor negara lain.

November 2015 lalu diberitakan purwarupa ATD-X sudah mendekati momen terbang perdananya.Sayangnya hingga tulisan cetak,belum ada kelanjutan mengenai perkembangan ATD-X.Oh ya, nama Shinshin (Spirit of the Heart) Sebetulnya bukanlah nama dari Kementrian Pertahanan Jepang.Nama yang dipopulerkan media massa Jepang itu sejatinya adalah kode program ATD-X dalam daftar proyek Angkatan bersenjata udara Jepang.


DATA SPESIFIKASI ATD-X
STATUS
PENGEMBANGAN
Kontraktor utama
Mitsubishi Heavy Industries Jepang
Terban perdana
akhir 2015 (perkiraan)
Operasional
2028
Mesin
2 x IHI XF-5-1 afterburning turbulan, dengan kelas daya [tiap mesin] sekitar 49 kN
Dimensi
Panjang 14.2 m. Tinggi 4.5 m.                      Rentang sayap 9.1 m
Maximum take off weight
13.000 kg
G-Limit
-3G sampai +9G
Radius tempur
1.200 km (tipikal misi udara ke udara)
Ferry Range
4.000 km (dengan tengki eksternal)
Awak
1
Persenjataan internal
1 x kanon kaliber 23 mm atau 30 mm
Persenjataan yang dapat di bawa
Rudal udara ke udara
AIM-9 Sidewinder (jangkauan  17 km)
AIM-7EM Sparrow (jangkauan 45 – 50 km). Mitsubishi AAM-3/Type 90 AAM (jangkauan 13 km). Mitsubishi AAM-4/Type 99 AAM (jangkauan 100 km)
Rudal udara ke permukaan (external station)
ASM-1 / Type-80 ASM (jangkauan 50 km),
Asm-2 / Type-93 ASM (jangkauan 150 km)
Bom (external station)
General purposes Mk.82/84, GBU-31 JDAM
(Join Direct Attack Munition)
Rival terdekat
F-35 Lightning II
·           Data- data berupa perkiraan karena hingga tulisan masuk, purwarupanya pun belum terbang.



Sumber : Edisi Koleksi Angkasa The Last Generation of Jet Fighter 

Saturday, March 10, 2018

Fakta Lockheed F-104 Starfighter


  
Mungkin dari begitu banyak pesawat tempur generasi ketiga,F-104 Starfighter adalah yang paling banyak memiliki masalah dan juga memilik prestasi.Namun,apapun itu,lahirnya pesawat ini merupakan loncatan teknologi.Seperti misalnya penggunaan sayap yang kecil dan tipis sehingga tidak dapat digunakan sebagai sebagai tempat penampungan bahan bakar.

Fakta lainnya,para pemerhati kedirgantaraan banyak yang mengatakan bahwa pesawat F-104 sebenarnya adalah roket yang diberi sayap.

Sangkaan tersebut tidaklah salah,karena badan pesawat yang langsing dan melancip di bagian muka mengesankan sebuah roket.Bentuk yang tidak lazim untuk masanya itu banyaknya mengundang pertanyaan soal kelincahan F-104 ketika berhadapan dengan lawan di udara dan saat melakukan pertempuran jarak dekat.

Pandangan tersebut nyatanya dapat dipatahkan,karena F-104 diciptakan sebagai pesawat pencegat (Interceptor)yang mengutamakan dapat lepas landas dengan cepat dan sesegera mungkin melakukan pencegatan di udara.

Perlu diingat,kala itu Perang Dingin antara blok Barat dan blok Timur masih berkecamuk sehingga kecepatan adalah salah satu yang diunggulkan .Hal ini dapat dibuktikan bahwa F-104 adalah pesawat tercepat di zamannya.Ketika,14 Desember 1958,Letnan Einar Enevoldson berhasil memecahkan rekor saat melakukan climb hingga ketinggian 25.000 m (82.000 kaki) hanya dengan waktu 266,03 detik.
                 

Perlu diketahui,walaupun AU AS sebagai pengguna terbanyak F-104,namun yang pertama kali menggunakannya dalam pertempuran udara adalah AU Pakistan saat bertarung dengan AU India.F-104 berhadapan dengan MiG-21FL dan dalam beberapa kali 'dogfight' keduanya menjatuhkan pesawat lawan.

Dalam pertempuran tersebut sekaligus tercatat,untuk pertama kalinya pesawat yang berkemampuan 2 Mach melakukan dogfight.Yaitu antara F-104 Starfighter AU Pakistan melawan Dassault Mystere IV milik AU India.

Fakta lain tidak dapat dipungkiri,F-104 Starfighter merupakan pesawat yang paling banyak memakan korban.salah satunya adalah pesawat yang digunakan AU dan AL Jerman.Dari 916 pesawat yang dimilikinya,262 pesawat bermasalah dan jatuh menewaskan 116 orang.Bahkan,pernah dalam satu hari jatuh empat pesawat sekaligus.

Pada masa itu di AU Jerman ada istilah witwenmacher yang berarti pembuat janda,akibat saking banyaknya pilot menjadi korban dari pesawat ini.
Fakta lainnya,ada kabar yang kurang enak di mana ketika F-104 dijual kepada AU Belanda nanyak petinggi negeri tersebut mendapat uang komisi hasil penjualan pesawat ini dari Lockheed.

Daftar Pustaka :

Djajasasmita,Harzan.2017.Majalah Angkasa.Jakarta:Kompas Gramedia.



Friday, December 29, 2017

KnAAPO dan Irkut Serupa tapi tak sama

KnAAPO dan Irkut Serupa tapi tak sama

Knaapo dan Irkut merupakan industri pesawat yang berbeda.Knaapo membuat Su-27/30 untuk Indonesia,Vietnam,Venezuela.Selain itu,KnAAPO juga membuat pesawat tempur generasi ke 5 yaitu Su-57 PAK FA.Sedangkan Irkut juga membuat Sukhoi series.Tetapi Sukhoi buatan Irkut support komponen buatan barat seperti Su-30MKM dan Su-30MKI punya India yang dipasang avionik buatan AS,Israel dan Prancis.Irkut tak hanya memproduksi Sukhoi Series tapi juga memproduksi MC-21-300 yang merupakan pesawat sipil berbadan sempit.Knaapo juga membuat varian Sukhoi seperti Su-34 Fullback


Irkut :



 Knaapo: